
Menjadi konsumtif seakan menjadi keniscayaan di era modern ini, zaman di mana untuk makan bahkan tidak perlu masak, hanya tinggal memainkan gadget di tangan. Demikian pula dengan berbelanja dan hiburan, kita bahkan tidak perlu menembus kemacetan jalan raya hanya sekedar untuk berbelanja, alih-alih karena rasa malas, penyebab terbesarnya justru karena dekatnya ‘pasar’ dengan kita yang hanya sejauh genggaman tangan. Data dari NielsenIQ mencatat, ada kenaikan yang agresif pada konsumen yang menggunakan ecommerce hingga 88% dari 17 juta pengguna pada 2020, menjadi 32 juta pengguna di 2021. Temuan ini juga diamini oleh Navigating Indonesia E-Commerce yang menyatakan bahwa 74,5% konsumen Indonesia lebih senang untuk berbelanja online.
Kemudahan teknologi yang mendekatkan kita kepada akses pasar membawa kita kepada gaya hidup konsumerisme, yaitu gaya hidup yang menuntut kepuasan melalui aktivitas konsumtif. Dalam skala mikro tentu konsumtif itu baik, karena dengannya maka perekonomian bergerak, barang produksi terserap, tenaga kerja bekerja secara efektif karena jumlah produksi yang masif pada ekonomi yang konsumtif. Namun demikian, dalam perspektif yang komprehensif, konsumerisme tanpa pengetahuan mengenai investasi dan tabungan dalam jangka panjang dapat menjadi bom waktu bagi perekonomian suatu negara, sebab beban ekonomi masyarakat di masa tua akan menjadi tanggungan negara, karena masyarakatnya tidak memiliki tabungan yang cukup, sebab tidak memahi manajemen keuangan yang baik bagi dirinya sendiri.
Riset yang diterbitkan oleh media mahardhika menyebutkan bahwa perilaku konsumtif cenderung di dorong oleh minimnya literasi keuangan dan gaya hidup para pelakunya, 46% dari responden menyatakan bahwa senang untuk travelling, 29% senang untuk menghabiskan waktunya dengan hobinya sedangkan 22% untuk berbelanja, dan 2% sisanya untuk kegiatan diluar itu. Dapat dilihat bahwa perilaku konsumtif dalam riset tersebut cenderung untuk memenuhi gaya hidup, mayoritas yang melakukannya pun berada di gaji 1 juta – 3 juta rupiah, yang artinya total penghasilannya tidak sampai menyentuh angka upah minimum, hasil survei yanga menunjukan bahwa responden pada tingkat upah tersebut justru tidak memiliki perencanaan keuangan. Minimnya literasi keuangan dan tuntutan gaya hidup mendorong perilaku konsumtif yang terjadi pada masyarakat hari ini.
Tentu tidak ada yang salah dengan menikmati hasil kerja kita yang sudah susah payah diupayakan, namun tentu saja selalu ada ruang tumbuh dan belajar untuk menyiapkan basa depan yang lebih baik, setidaknya dengan meningkatkan pengetahuan mengenai keuangan, supaya perilaku konsumtif yang dilakukan tidak semata-mata menjadi perilaku yang impulsif tanpa pertimbangan yang baik.